![]() |
| buku baru mengintip pintu pintu surga - september 2013 |
Dilihat
dari judulnya saja “Mengintip Pintu-Pintu Surga?” diharapkan
setiap pembaca menjadi penasaran. Tentu ingin melihat dalamnya, mau
lewat mana, dan bisakah “aku” mencapai pintu surga itu.
Langsungkah aku masuk surga, ataukah mampir dulu di neraka?? Umumnya
menjadi tanda “tanya besar”, dengan penantian harap-harap cemas
setiap insan menghadapi kebangkitan yang ke II nanti. Bagaimana
shalatku, puasaku, zakatku, hajiku, dan semua amal-amalku yang telah
aku kerjakan ketika di dunia. Jangan-jangan seperti yang pernah
disampaikan seorang Ustadz – nanti di hari Kiamat akan ada kasus 3
orang – Pejuang, Ahli ibadah, dan Dermawan. Yang dikatakan pejuang
itu, ditanya malaikat: Engkau pejuang ? Jawabnya: Ya, dulu aku ikut
perang, dan mati di medan laga. Allah mengelak: Bukan. Bukan pejuang,
karena engkau mati di medan perang itu hanya ingin “tanda jasa”,
dan dipuji oleh orang-orang. Lalu yang ahli ibadah, ditanya juga:
Engkau ahli ibadah ya? Jawabnya:
Ya, bahkan aku tak pernah meninggalkan shalat malam. Allah menyelanya: Tidak. Engkau bukan ahli ibadah. Shalatmu hanya ingin disebut-sebut orang ahli ibadah, ya kan?. Kemudian yang terakhir – seorang dermawan, di tanya: Kamu seorang Dermawan ya? Ya, ketika di dunia aku suka memberi sedekah, infak, hadiah, wakaf, dll. Hartaku habis untuk bersedekah. Allah mengelaknya: Bukan. Bukan dermawan engkau. Sebab engkau hanya ingin dipuja orang – biar disebut-sebut dermawan, padahal hatimu kosong – tidak ikhlas….
Ya, bahkan aku tak pernah meninggalkan shalat malam. Allah menyelanya: Tidak. Engkau bukan ahli ibadah. Shalatmu hanya ingin disebut-sebut orang ahli ibadah, ya kan?. Kemudian yang terakhir – seorang dermawan, di tanya: Kamu seorang Dermawan ya? Ya, ketika di dunia aku suka memberi sedekah, infak, hadiah, wakaf, dll. Hartaku habis untuk bersedekah. Allah mengelaknya: Bukan. Bukan dermawan engkau. Sebab engkau hanya ingin dipuja orang – biar disebut-sebut dermawan, padahal hatimu kosong – tidak ikhlas….
Dari
cerita itu, saya menjadi cemas, jangan-jangan shalatku kosong tanpa
pahala. Puasaku yang aku lakukan sejak kecil, tak ada pahalanya,
demikian pula zakatku, hajiku, dan seterusnya…..
penulis
H. Munawir Abdul Fatah


Tidak ada komentar